Tiap-tiap orang pasti mempunyai
sosok inspirasi di hidupnya. Inspirator yang selalu menjadikan hidupnya penuh
dengan motivasi. Sosok inspirator yang kuat, tangguh memang sangat diperlukan
untuk hidup yang terus berkembang. Mulai dari tokoh inspirator ternama sampai
hanya inspirator yang ala kadarnya. Namun, itu semua tidaklah penting, yang
terpenting adalah seorang inspirator tersebut mampu membangkitkan semangat dan gairah
hidup. Banyak orang yang mengaku mempunyai sosok inspirator yang begitu
terkenal dan mempunyai nama besar, namun tidak membuat taraf hidupnya naik
secara signifikan. Akan tetapi ada juga yang memiliki tokoh inspirator yang
bisa dikatakan tidak mempunyai nama besar, namun membuat hidup orang tersebut progress, hal itu lebih baik ketimbang
mempunyai sosok inspirator ternama namun tidak dapat membuat hidupnya
berkembang.
Pun dengan saya. Saya juga
memiliki sosok inspirator yang begitu saya banggakan. Mereka seakan telah
memotivasi saya untuk terus berkembang, menyamai, bahkan melampaui apa yang
telah mereka hasilkan selama ini. Ya, tidak muluk-muluk, tokoh inspirator saya
adalah teman-teman saya sendiri. Lewat mereka saya banyak belajar hal-hal
positif. Banyak teman-teman saya yang telah sukses di bidang nya masing-masing.
Ada yang bergerak di bidang wirausaha bahkan ada yang sudah diterima menjadi
pegawai negeri di salah satu kementerian di Jakarta. Semangat dan perjuangan
mereka lah yang patut saya apresiasi. Maka tak heran jika saya menjadikan
mereka sebagai sosok yang begitu menginspirasi dan memotivasi. Bahkan ada salah
seorang teman saya yang begitu fokus di bidang akademisi, pengalaman dan
prestasinya di olimpiade sains pun tak diragukan lagi. Kehidupan yang sederhana
pun tak membuat semangatnya redup, padahal jika ia mau, ia dapat dengan mudah
hidup secara hedonis dengan hasil
yang ia dapatkan dari berbagai macam prestasi yang ia raih. Namun, hal itu
tidak membuat dia merasa berbangga diri, ia tetap rendah hati dan ramah
terhadap siapa saja. Kabar yang terakhir saya dengar, ia mendapatkan beasiswa
ke Jerman, namun ia menolaknya dengan alasan tidak mendapat izin dari sang ibu.
Sungguh hal yang sangat luar biasa dari seorang anak yang hidup di zaman serba sekuler ini. “Kalau dia bisa, mengapa
saya tidak” kata-kata itu lah yang selalu ada di benak saya untuk terus memotivasi
diri saya sendiri agar berkembang kearah yang leih baik.
Lewat teman-teman juga, tak hanya
saling memotivasi dan memberikan berbagai masukan, tetapi disitu kita juga bisa
membangun relasi yang kuat. Seperti yang kita ketahui bersama, banyak orang
sukses di dunia ini dikarenakan oleh apa? Oleh banyaknya relasi yang mereka
bangun. Bagaimana cara kita agar dapat membangun sebuah relasi? Kalau di dalam
bahasa jawa kita mengenal istilah srawung.
Istilah srawung sendiri kurang lebih
berarti silaturahmi. Di dalam kitab sendiri, silaturahmi dikatakan sangat
penting untuk membina kekeluargaan. Ya, pada hakikatnya memang manusia
merupakan makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri dan membutuhkan orang
lain.
Oleh sebab itu, menurut saya tak
perlulah sosok inspirator yang mempunyai nama tenar. Cukup sesosok orang yang
dapat membuat hidupnya termotivasi dan merubah hidupnya kearah yang lebih signifikan.
Oke, tidak ada salah nya memang mempunyai tokoh inspirator yang ternama, karena
itu adalah hak tiap-tiap individu. Namun apakah sosok tersebut sudah
benar-benar memotivasi diri sendiri. Jawabanya ada di diri tiap-tiap individu J
0 comments:
Post a Comment